Friday, June 14, 2013

Pasang Kondom Tuas Pemindah Gigi, Bikin Sepatu Lebih Awet

Naik motor sport emang asyik, lebih keren di jalanan! Tapi masalahnya, sepatu kerap jadi korban. Gara-garanya, ketika pindah gigi, sepatu harus mencongkel tuas presneling.

Meski bawaan motor sudah ada karet pelindungnya, tapi tetap tidak melindungi sepatu secara keseluruhan. "Karena karet bawaan pabrik cuma ada di ujung tuas operan gigi saja," buka Steven Lay, dari Layz Motor.

Buat motor sport yang tuas pemindah giginya ada dua, depan dan belakang seperti Yamaha V-Ixion sih enggak masalah, tapi kalau cuma satu dan tetap harus mencongkel apa solusinya?

"Tenang, kita punya karet untuk melapisi tuas pemindah gigi. Produk baru keluaran Taiwan ini bernama Rubber Shift Sock," lanjut Steven sambil mempraktekan cara pasangnya. Ternyata part yang lebih mirip kondom ini sangat mudah dipasang tanpa butuh bantuan alat apapun.

Yang penting tangan kuat saat menarik kondom hingga terpasang sempurna. Setelah terpasang, aksesoris yang dijual Rp 50 ribuan ini jelas terlihat mampu menutupi lebih banyak bagian dari tuas pemindah gigi.

Pilihan warna komdom tuas pemindah gigi ini juga cukup beragam. Ada delapan warna yang bisa disesuaikan dengan tampilan motor kita. “Kalau dipasang di motor, bisa sekaligus jadi pemanis juga,“ beber Steven dari bengkelnya di Jalan Arteri Kelapa Dua no 90E, Jakarta Barat ini. (motorplus-online.com)

Cutting Stiker Dilapis Pernis, Lebih Awet Bro!

Penggunaan cutting sticker, kerap jadi pilihan modifikasi pengubah tampilan bodi secara kilat. Selain itu, bisa dibilang murah ketimbang painting alias pengecatan.

“Harga yang dipatok untuk full body cutting sticker motor bebek Rp 250-500 ribu, matik Rp 120-450 dan sport Rp 350 ribu - 2 juta. Prosesi pengerjaan juga terbilang cepat sekitar 1-2 hari,” papar Pikno, owner Portal Sticker.

Namun, aplikasi cutting sticker ini bukan tanpa resiko. Karena sifatnya hanya menempel di body asli, terkelupas atau lepas kerap terjadi hingga bikin hati mengkel dan galau.

Eits, ada triknya buat mengatasi masalah itu nih! Biar enggak mudah terkelupas, bisa dilapisi stiker transparan atau tempuh semprot pernis. “Kalau dilapis pakai stiker transparan, saya tidak merekomendasikan. Selain mudah menggelembung, bila tidak dilakukan dengan baik hasilnya malah kurang maksimal. Biasanya saya tempuh pakai pernis,” bilang Pikno yang di Jl. Pinang 1 No. 52, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Untuk tempuh pelapis pernis, caranya mudah. Sebelum melakukan aksi cutting sticker full, bidang permukaan cat asli harus dilapis terlebih dahulu dengan stiker sebagai background.

Setelah itu, baru aksi cutting sticker dimuali di atas background tadi. Jika sudah rampung, tinggal proses penyemprotan pernis ke seluruh bodi hingga membuat cairannya menutupi stiker.

“Agar hasil maksimal, pengeringan pernis tempuh sistem oven,” paparnya. Patokan harga mulai dari Rp 150 - 400 ribu. Aplikasi pelapis ini, bikin cutting sticker lebih kuat dan mantap. Saat bosan, tinggal lepas backround stiker aja.

Mudah dong?. (motorplus-online.com)

Magnetic Key Shutter (bag.2) Jika Kunci Hilang dan Perawatannya

Yuk lanjut ngomoning Magnetic Key Shutter, (ulasan sebelumnnya klik di sini) kini jika kunci hilang! Seperti dialami Neyla, pemilik Yamaha Xeon 125 dan Wasiman penunggang Yamah Mio J. Kedua pemilik motor beda wilayah ini kebetulan sama-sama pernah alami kunci kontak cadangannya hilang entah dimana. Mereka terpaksa berpikir apakah mesti ganti kunci kontaknya aja atau berikut rumahnya.

“Kalau harus beli rumah kunci baru, harganya lumayan dan mesti bongkar kunci jok di cover belakang. Tapi, kalau bisa bikin di tukang kunci kan lebih murah jatuhnya. Paling nggak sampai Rp 25 ribu. Tukang kunci udah siapin model kuncinya dan tinggal atur posisi magnetnya.” ucap Wasiman yang tinggal di Limo, Depok-Bogor.

Beda dengan Neyla. Sebab kunci kontak diperkirakan hilang tak jauh dari rumah. Makanya gak mau ambil resiko, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini, terpaksa beli rumah kunci kontak baru. “Nggak papa keluar duit lebih dikit. Tapi, motor aman diparkir. Karena kunci kontak dan mata kunci pengaman sudah beda dari aslinya,” yakinnya.

Kode Kunci
Coba cermati kode kuncinya. Ketika membeli motor, biasanya suka diberi dua kunci. Salah satunya, buat cadangan ketika kunci yang satu pertama hilang. Tapi, selain kunci tambahan, sobat juga akan menerima sebuah pelat besi dengan urutan angka di lembaran pelat tersebut.

“Pelat dengan nomor yang tertera di atasnya itu seri produksi dari pembuatan kunci. Jadi, sewaktu-waktu kunci hilang, bisa saja dibuat baru berdasarkan kode tersebut,” ungkap Sarwono Edhi, Technical Training Development PT Astra Honda Motor (AHM) selaku produsen motor Honda di Indonesia.

Konsumen bisa mengajukan proses pembuatan kunci jika hilang atau kerusakan di bagian belakang anak kunci (tempat magnet berada). Prosesnya, sobat cukup melapor ke dealer dengan membawa pelat tersebut. Nantinya, dari dealer akan diteruskan untuk proses pembuatan kunci ulang.
Perawatan Panel
Meski tergolong canggih, tapi tentunya part mekanis tak luput dari problem. Namanya juga alat, pasti akan mengalami keausan. Tetapi, bukan keausan yang parah ya.

“Pernah alami seret atau terasa agak berat untuk membuka penutup lubang kuncinya. Waktu masih baru sih, biasa aja. Ringan diputarnya,” ujar Aprilia, pemakai Honda Scoopy lansiran 2010 asal Pondok Aren, Tangerang, Banten.

Maklum, bisa saja karena air hujan atau debu yang hinggap di panel. Akhirnya disemprotkan pelumas ke bagian dalam lubang anak kunci. Tujuannya, agar kunci tetap mulus diputar kembali. Dan, ternyata benar. Back to normal. “Sebenarnya boleh saja menyemprotkan cairan pelumas. Tetapi usahakan cairan tersebut, cairan yang tidak akan menjadi konduktor dan menyebabkan korsleting,” saran Sarwono Edhi.

Takutnya, cairan itu akan jadi penghantar terjadi hubungan pendek di soket yang ada di belakang panel kunci kontak. Meski pacuan sudah dilengkapi sekring, tetapi tentu sobat tak mau itu terjadi kan. Cairan penetran dan lubricant seperti WD-40, masih tergolong aman buat atasi masalah seret. Selain mampu lunturkan karat, cairan ini juga bisa melumasi biar gak terjadi friksi.  (motorplus-online.com)

Ragam Aplikasi Teknologi Mobil di Motor (Bag.2)

Sudah baca tulisan sebelumnya kan, tentang teknologi mobil yang kini ada di sepeda motor. Pada artikel yang bisa diakses dengan masuk ke link di sini , sudah dipaparkan tentang teknologi drive by wire, dua busi dan variable valve . Yuk simak teknologi yang lainnya..!!!

4. DOUBLE BUTTERFLY

Buat memaksimalkan kinerja mesin dan bahan bakar, di mesin injeksi terkini mulai mengakali dengan dua katup di throttle body. Misalnya, di VW Scirocco atau di Audi. Tetapi, di motor juga mulai diaplikasi. Misalnya di skubek Yamaha generasi terkini. Yaitu, Yamaha Mio J, Soul GT, Mio GT dan X-Ride.

Tetapi bedanya, di mobil terdapat butterfly alias katup dengan beda dimensi. Sedang di motor, punya dimensi katup yang sama. Cara kerjanya bisa dikatakan berbeda, tetapi tujuannya tetap sama. Yaitu, menekan konsumsi bahan bakar. “Pemakaian teknologi ini lebih diutamakan untuk motor matic. Hal ini untuk membuat konsumsi BBM tetap irit tetapi motor tetap kencang,” ujar M Abidin, GM Service & Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Di motor, butterfly ini akan membuka secara bertahap sesuai kecepatan dan kebutuhan mesin. Ketika grip gas dibuka di bawah 10%, maka hanya katup depan saja yang membuka. Aliran udara dan bahan bakar pun dialirkan melalui saluran tertentu. Untuk di Yamaha, saluran ini disebut dengan slang passage. Tanpa melalui intake, campuran itu langsung diinjeksi ke lubang kecil di klep isap.

Tetapi, jika bukaan throttle lebih dari 10%, maka katup kedua yang ada di belakang akan ikut bekerja. Campuran bahan bakar dan udara pun kembali melewati intake. “Kinerja teknologi ini lebih efektif untuk pemakaian kendaraan di bawah kecepatan 60 km/jam,” sebut Abidin.

5. MULTI-KLEP
Teknologi multi-valve alias multi-klep, sebenarnya bukan teknologi baru. Sebab, sebelum tahun 1914 sudah ada yang aplikasi. Yaitu, Peugeot di mobil balapnya. Pengembangan terus berlanjut. Kini, tak hanya mobil saja yang aplikasi, tetapi motor juga.

Teknologi multi-klep ini juga tak hanya berlaku untuk mesin dua kem (DOHC), tetapi di mesin satu kem (SOHC) juga ada. Kalau di mobil, seperti Honda Civic tahun 1985 yang aplikasi tiga klep. Makanya, untuk 4 silinder bisa disesaki 12 valve. Oh ya, multi klep ini bisa berjumlah 3, 4 dan 5 klep per silinder.

Di motor, teknologi SOHC multi-klep ada di Yamaha V-ixion (4 klep), Piaggio LX 125 atau LX 150 (3 klep). Sedang buat DOHC, seperti di Honda CBR 150 & 250, Suzuki Satria F-150 dan Kawasaki Ninja 250. Antara DOHC dan SOHC multi-klep pun ,punya kelebihan masing-masing. Tetapi jelasnya, bisa bikin rpm mesin lebih tinggi.

6. BLOK SILINDER

Dari sisi engine, blok silinder juga ikut kena teknologi canggih. Selain di mobil, pemakaian silinder blok dengan bahan DiASil (Die Cast Aluminium Silicon) juga diaplikasi di motor. Seperti di Yamaha Jupiter MX 135 LC, V-ixion dan skubek generasi terkini. “Teknologi ini juga dipakai di mobil seperti Lexus,” sebut M. Abidin.

Bahan ini, mampu melepas panas lebih cepat. Selain itu, silikon yang ada di linner mampu menjaga clearance piston agar tetap sama. Baik itu dalam konsidi mesin panas dan mesin dingin. Kompresi mesin ikut terjaga.

Selain DiASil Cylinder, ada juga nikasil (nikel carbide silicon). Perannya, tak jauh berbeda dengan DiASil cylinder. Untuk nikasil, juga banyak diaplikasi mobil-mobil mewah atau mobil yang memiliki diameter piston besar. Bahkan, di Formula One alias F1 juga aplikasi. Friksi minim, power mesin jadi terjaga.

7. STOP SYSTEM

Teknologi ini, juga diaplikasi di beberapa mobil. Misal, Honda CR-Z. Buat menekan konsumsi BBM ketika kondisi macet, dengan menekan pedal rem selama 3 detik maka mesin akan mati. Menyalakan engine pun, cukup menginjak pedal gas.

Teknologi starter ini, juga dipakai di PCX dan Honda Vario Techno 125 PGM-FI ISS (Idling Stop System). Ketika part yang mempunyai 18 kumparan itu dialiri arus listrik, membuat alternator berfungsi layaknya medan magnet buatan. Adanya magnet ini, membuat gaya tolak dan menarik. Sehingga alternator yang terhubung poros engkol menjadi bergerak dan membuat piston naik-turun buat ciptakan kompresi.

Sebenarnya, bisa saja Vario 125 ISS menjadi motor hybrid. Layaknya di CR-Z, cukup menambah satu part lagi yang disebut IMA (Integrated Motor Assist). Part ini dapat menyimpan energi yang dihasilkan ketika proses pengereman. Nantinya, energi ini akan diubah jadi gaya gerak listrik sebagai penggerak. “Tak menutup kemungkinan ke depannya bisa diaplikasi di motor harian,” ujar Edhi. (motorplus-online.com) 

Ragam Aplikasi Teknologi Mobil di Motor (Bag.1)

Ragam Aplikasi Teknologi Mobil di Motor (Bag.1)

Bahan bakar dari fosil, semakin terbatas keberadaannya. Selain itu, harga jualnya pun semakin mahal. Maka itu, produsen kendaraan saling berlomba menghasilkan kendaraan yang irit bahan bakar (BBM), tapi tetap memberikan power besar.

Tak sedikit teknologi di roda empat dibuat demi menekan konsumsi BBM. Mengingat, kondisi perkotaan yang makin sarat kemacetan. Jika sebelumnya satu liter sanggup menghantar mobil hingga jarak 10 km, maka karena macet sanggup 7 km/ liter. Terbayang sudah berapa liter pemborosan yang terjadi pertahun. Belum lagi, emisi gas buang yang ikut tinggi.

Tetapi, selain di mobil teknologi itu kini juga mulai diaplikasi di motor alias roda dua. Tanpa disadari, keberadaan teknologi itu pun mulai akrab di motor harian. Tak sekedar motor balap saja.

Lewat teknologi-teknologi ini, motor pun jadi lebih irit. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalau ke depan tercipta motor hybrid massal. Tentunya, sobat ingin tahu apa saja teknologi yang sudah dan tak menutup kemungkinan bakal diterapkan. Ini dia!
1. THROTTLE BY WIRE
Untuk menggerakkan katup di throttle body agar mampu menyemburkan bahan bakar dan udara, sebagian mobil sudah mengaplikasi throttle by wire. Teknologi ini, sudah tak menggunakan kerja mekanis dengan menggunakan kabel gas sebagai part penggerak butterfly throttle body.

Seperti diaplikasi di Nissan Livina, peran kabel digantikan sensor yang ada di pedal gas. Cara kerjanya mirip potensiometer layaknya volume buat mengatur audio. Perubahan tegangan ini yang akhirnya diterima ECU sebagai informasi, buat atur bukaan butterfly. ECU Juga, memberikan perintah ke injektor untuk jumlah injeksi bahan bakarnya.

Maka itu, tujuan pemakaian teknologi ini juga sebagai salah satu faktor efisiensi konsumsi BBM. Teknolgi ini juga diaplikasi di moge. Sebut saja Ducati. Pabrikan motor asal Italia ini juga sudah aplikasi teknologi ride by wire di Diavel dan 1198 Panigale.

2. DUA BUSI
Mungkin sobat familiar dengan Honda Jazz tipe i-DSI (intelligent-Dual Sequantial Iqnition). Mobil ini, mengaplikasi dua busi untuk tiap satu silinder. Tujuannya, untuk pembakaran yang sempurna dan efisien juga emisi gas buang yang lebih bersih.

Nah, di motor, Bajaj Pulsar juga aplikasi teknologi serupa. Di Bajaj, akrab dengan sebutan DTS-I (Digital Twin Spark-ignition). Prinsip kerjanya keduanya tetap sama. Yaitu, antara busi yang satu dengan yang lain, memiliki perbedaan waktu buat percikkan api. Sehingga pembakaran lebih sempurna. Proses ini, diatur CDI yang sudah diprogram sejak awal.

Selain digital CDI, proses meletiknya busi juga bisa dipantau dan dikontrol dari TRICS III (Throttle Responsive Ignition Control System). Peranti ini, berfungsi buat memajukan dan memundurkan pengapian sesuai kecepatan dan beban yang berbeda.

3. VARIABLE VALVE TIMING
Teknologi ini, mulai akrab dikenal di mobil. Perannya, mengatur waktu bukaan klep alias katup. Bisa di klep isap dan buang. Penamaannya di tiap pabrikan mobil, bisa berbeda. Misalnya di Toyata, dikenal dengan istilah VVT-i, Honda dengan panggilan V-TEC, Mitsubishi dengan sebutan MIVEC. Teknologi ini pun terus berkembang.

“Cara kerjanya camshaft intake bisa digeser melalui tekanan oli. Ketika rpm rendah, camshaft digeser agar saat penekanan katupnya dilambatkan (retard; red). Begitu juga sebaliknya, ketika rpm tinggi camshaft digeser ke arah lebih cepat (advance; red),” ujar Iwan Abdurahman, Technical Support Dept PT Toyota Astra Motor (TAM), produsen mobil Toyota di Indonesia.

Dalam pemakaiannya, ECU yang memerintahkan untuk menggeser kem tersebut, agar sesuai kebutuhan. Untuk aplikasi teknologi ini, butuh dukungan dari beberapa part termasuk sensor. Yaitu; controller yang bertugas menggeser advance atau retard, sensor posisi kem, sensor air pendingin mesin, oil control valve dan sensor posisi kruk as. “Teknologi ini diaplikasi dengan tujuan mendapatkan power yang lebih baik, lebih hemat bahan bakar dan emisi gas buang lebih bersih,” tambah Iwan.

“Di motor, motor besar seperti Honda Goldwing dan CBR sudah memakai teknologi seperti ini. Tujuannya, untuk menekan konsumsi bahan bakar dan power yang lebih baik,” timpal Sarwono Edhi, Technical Training Development PT Astra Honda Motor (AHM). Motor ‘harian’ kapan nih? He.. he.. he... 

Megnetic Key Shutter, Putar Kunci Lebih Dalam

Seiring teknologi yang terus berkembang di dunia sepeda motor, kunci kontak juga mengikuti. Terutama, panel dan kunci kontak itu sendiri. Jika sebelum era 2000-an kunci kontak hanya tampil biasa, kini panel kunci kontak itu aplikasi ‘pintu’ penutup lubang kunci.

Mungkin, sobat yang di era 90-an sempat memakai Yamaha RX-King, kadang suka melindungi panel kunci kontak pakai kunci gembok yang diberi pelat tambahan. Lalu, gembok ini dipasang di atas panel kunci kontak dengan mengambil dudukan di baut raiser setang.

Lewat cara ini, maling motor pun rada sedikit kesulitan buat menjebol panel kunci pakai kunci ‘T’ yang sudah dimodif. Begitu juga di Honda GL-Pro. Biasanya, kerap dilakukan hal yang sama.

Motor era kini, juga sudah menerapkan metode seperti ini. Tetapi, tentu dengan desain dan teknologi yang lebih canggih. Dalam satu anak kunci, ada dua alat yang punya fungsi berbeda.

Ya, yang satu untuk membuka kunci kontak dan satu lagi untuk membuka penutup lubang kunci. Untuk yang disebut terakhir, mengaplikasi manget alias magnetic key shuiter. Lebih lengkapnya, simak terus ya!. (motorplus-online.com)

1. KODE KUNCI
Ketika membeli motor, biasanya suka diberi dua kunci. Salah satunya, buat cadangan ketika kunci yang satu pertama hilang. Tapi, selain kunci tambahan, sobat juga akan menerima sebuah pelat besi dengan urutan angka di lembaran pelat tersebut.

“Pelat dengan nomor yang tertera di atasnya itu seri produksi dari pembuatan kunci. Jadi, sewaktu-waktu kunci hilang, bisa saja dibuat baru berdasarkan kode tersebut,” ungkap Sarwono Edhi, Technical Training Development PT Astra Honda Motor (AHM) selaku produsen motor Honda di Indonesia.

Konsumen bisa mengajukan proses pembuatan kunci jika hilang atau kerusakan di bagian belakang anak kunci (tempat magnet berada). Prosesnya, sobat cukup melapor ke dealer dengan membawa pelat tersebut. Nantinya, dari dealer akan diteruskan untuk proses pembuatan kunci ulang.

JIKA KUNCI HILANG

Seperti dialami Neyla, pemilik Yamaha Xeon 125 dan Wasiman penunggang Yamah Mio J. Kedua pemilik motor beda wilayah ini kebetulan sama-sama pernah alami kunci kontak cadangannya hilang entah dimana. Mereka terpaksa berpikir apakah mesti ganti kunci kontaknya aja atau berikut rumahnya.

“Kalau harus beli rumah kunci baru, harganya lumayan dan mesti bongkar kunci jok di cover belakang. Tapi, kalau bisa bikin di tukang kunci kan lebih murah jatuhnya. Paling nggak sampai Rp 25 ribu. Tukang kunci udah siapin model kuncinya dan tinggal atur posisi magnetnya.” ucap Wasiman yang tinggal di Limo, Depok-Bogor.

Beda dengan Neyla. Sebab kunci kontak diperkirakan hilang tak jauh dari rumah. Makanya gak mau ambil resiko, warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini, terpaksa beli rumah kunci kontak baru. “Nggak papa keluar duit lebih dikit. Tapi, motor aman diparkir. Karena kunci kontak dan mata kunci pengaman sudah beda dari aslinya,” yakinnya.

2. POSISI MAGNET

Magnet di dalam kunci tunggangan sobat yang sudah mengaplikasi key shutter jadi bagian penting. Besi berani di kuncilah yang bisa membuka penutup lubang kunci. Inilah yang dianggap jadi bagian sistem pengamanan motor.

“Ini bagian yang melindungi motor. Seandainya mau dicuri, maling motor mesti menjebol penutupnya dulu. Baru lubang kuncinya,” beber Handy Hariko, Senior Manager Technical Service PT Astra Honda Motor (AHM), Jakarta.

Honda jadi pabrikan pertama yang memproduksi motor yang menggunakan teknologi key shutter. Tipe yang menerapkan kunci magnet Honda Karisma. “Setiap anak kunci di satu motor, ada 400 anak kunci yang dirandom. Yang diacak variabel magnet di kunci,” beber Handy dari kantornya di Sunter, Jakarta Utara.

Pastinya setiap kunci key shutter ada 3 magnet kecil seukuran ujung pensil. Setiap magnet dipasang ke lubangnya, tapi ada 1 lubang yang tidak diisi magnet. “Perbedaan per tiap anak kunci magnetnya akan berbeda-beda. Tapi, intinya tetap ada magnet kutub utara atau kutub selatan. Kalau dijelaskan detail, nanti sama juga ngajarin maling. Hehehe,” ujar Handy.

Nah, susunan tiga magnet itu yang akan dirandom. Tiga magnet di dalam anak kunci bisa jadi terdiri dari dua magnet kutub utara dan 1 kutub selatan. Atau bisa juga ketiga magnet kutub utara semua.

Magnet di kunci akan bekerja saat ditempelkan cylinder shutter alias permukaan di samping lubang kunci. Kalau ujung kunci bermagnet sudah pas masuk ke cylinder shutter, tinggal digerakan supaya membuka penutup lubang kunci.

Di dalam cylinder shutter ada magnet yang bentuk dan jumlahnya sama dengan besi berani di kunci. Variabel magnet pun di dalam kunci. Pas ditempelkan, akan bertemu dua kutub yang sama. Misalnya, kutub utara di kunci akan bertemu dengan kutub utara di cylinder shutter, dan seterusnya.

3. PERAWATAN PANEL

Meski tergolong canggih, tapi tentunya part mekanis tak luput dari problem. Namanya juga alat, pasti akan mengalami keausan. Tetapi, bukan keausan yang parah ya.

“Pernah alami seret atau terasa agak berat untuk membuka penutup lubang kuncinya. Waktu masih baru sih, biasa aja. Ringan diputarnya,” ujar Aprilia, pemakai Honda Scoopy lansiran 2010 asal Pondok Aren, Tangerang, Banten.

Maklum, bisa saja karena air hujan atau debu yang hinggap di panel. Akhirnya disemprotkan pelumas ke bagian dalam lubang anak kunci. Tujuannya, agar kunci tetap mulus diputar kembali. Dan, ternyata benar. Back to normal. “Sebenarnya boleh saja menyemprotkan cairan pelumas. Tetapi usahakan cairan tersebut, cairan yang tidak akan menjadi konduktor dan menyebabkan korsleting,” saran Sarwono Edhi.

Takutnya, cairan itu akan jadi penghantar terjadi hubungan pendek di soket yang ada di belakang panel kunci kontak. Meski pacuan sudah dilengkapi sekring, tetapi tentu sobat tak mau itu terjadi kan. Cairan penetran dan lubricant seperti WD-40, masih tergolong aman buat atasi masalah seret. Selain mampu lunturkan karat, cairan ini juga bisa melumasi biar gak terjadi friksi. (motorplus-online.com)

Tenang, Aki Honda Vario Techno 125 Idling Stop Enggak Mudah Tekor!

Banyak yang beranggapan, dengan fitur idling stop system (ISS) akan membuat aki cepat tekor. Wah beneran nih aki bisa terkuras karena mesin terlalu sering mati dan menyala kembali?

Tenang, ternyata PT Astra Honda Motor (AHM) sudah punya solusi agar aki tidak mudah tekor dan idling stop system tetap bekerja maksimal.

Cara dengan menyiapkan proses menyalakan mesin yang hanya membutuhkan sedikit energi karena beberapa spesifikasi teknis yang sudah disiapkan sejak awal. Diantaranya berkat ACG starter, perangkat starter yang sekaligus menjadi altenator.

Pada ACG starter tidak ada lagi dinamo starter konvensional dan mekanisme gigi penggeraknya. Magnet pada kelistikan motor ini berfungsi sekaligus sebagai starter sehingga proses menyalakan mesin jadi lebih mudah dan halus.

Selain itu, proses menghidupkan kembali mesin juga dibantu oleh dekompresi dan swing back. Dekompresi adalah perangkat untuk membocorkan kompresi agar proses starter lebih ringan. Sedang swing back adalah bergeraknya posisi kruk as secara otomatis untuk menghindar dari langkah kompresi ketika mesin mati.

"Tujuannya supaya tidak ada beban yang terlalu berat saat mesin menyala kembali,” kata Sarwono Edhi, Technical Training Development PT AHM.

Kemampuan kiprok memasok pengisian listrik ke aki juga lebih besar. “Kiprok yang tergabung dengan ECM ini memasok pengisian ke aki lebih besar hingga 60 persen dari kiprok Vario tanpa idling stop,” jelas Edhi.

Maka dari itu, meski aki tetap sama yaitu berspesifikasi 5 Ampere tapi tetap tidak mudah tekor. "Fitur idling stop ini sebelumnya telah disiapkan dengan matang Honda,” yakin Edhi sambil mengingatkan bahwa tanpa aki, idling stop tetap tidak bisa bekerja.

Makanya, meski sudah disiapkan dengan matang, kondisi aki tetap dijaga ya! (motorplus-online.com)

Honda Pertimbangkan Pasang Idling Stop System di Semua Model Matiknya!

Fitur idling stop system pada Honda PCX 150 dan Vario Techno 125 Idling Stop terbukti mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar. Pada prinsipnya, dengan fitur ini mesin bisa dengan otomatis mati sementara ketika dalam kondisi idling atau langsam lebih dari 3 detik.

Fitur ini sangat berguna ketika berkendara di kemacetan atau ketika berhenti di lampu merah. Agar tidak membuang banyak bahan bakar, mesin secara otomatis dimatikan saat berhenti sejenak dan bisa menyala kembali ketika selongsong gas diputar.

Klaim dari PT Astra Honda Motor, konsumsi bahan bakarnya bisa menjadi lebih efisien hingga 7 persen. Hasil pengetesan internal Honda dengan metode ECE R40, didapat konsumsi bahan bakar hingga 55,8 km/liter. Lebih hemat dari Vario Techno 125 tanpa ISS yang hanya 52,1 km/liter.

Melihat manfaat ini sudah semestinya, fitur idling stop system diterapkan pada semua matik Honda dikemudian hari. "Ya sangat mungkin untuk diterapkan di model-model yang lain," buka Head of Corporate Communication PT AHM, Kristanto.

"Masih terus kami pelajari, dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat," jelas pria berkacamata ini. Pada prinsipnya, pihak PT AHM mengaku, aplikasi teknologi ini di model-model lain sangat memungkinkan, namun harus diikuti dengan penambahan komponen.

"Yang pasti harus sudah menggunakan ACG Starter, lalu Engine Control Modul (ECM) pasti berubah serta beberapa sensornya juga berbeda," rinci Sarwono Edhi, Technical Training Development PT AHM.

Jadi enggak sabar! (motorplus-online.com)

Memahami Cara Kerja Komponen Idling Stop di Vario Techno 125 CBS

Cara kerjanya sama seperti Honda PCX 125 dan 150
Baru dirilis minggu lalu (20/3), Honda Vario Techno 125 CBS kini dilengkapi dengan Idling Stop System (ISS). Nah, untuk yang bertanya-tanya bagaimana ISS bekerja dan komponen apa saja mendukungnya bisa bekerja, kami langsung cari jawabannya ke Astra Honda Training Center (AHTC).

Fitur ini sebelumnya sudah terdapat di Honda PCX 125 dan 150, cara kerjanya juga sama, tidak ada perbedaan. Begitu juga bila dibandingkan dengan Honda Vario Techo 125 sebelumnya, perbedaan tidak banyak. Hanya ECM, kabel bodi, speedometer dengan stand-by indicator, dan switch idling.

"Karena sebelumnya Honda sudah merancang fitur ini untuk mesin Vario, jadi tidak banyak ubahan pada Vario Techno 125 yang dilengkapi ISS dengan yang sebelumnya,” jelas Sarwono Edhi, Technical Training Development PT Astra Honda Motor (AHM).

Perbedaan paling utama yaitu Engine Control Module (ECM). Pada Vario Techno 125 CBS Idling Stop yang dilengkapi ISS, ECM-nya memiliki program yang berbeda dengan varian sebelumnya.

“Karena tugas ECM bertambah dengan menerima sinyal-sinyal dari setiap sensor dan akan memproses data-data yang diperlukan untuk mengaktifkan idling stop system,” terang Edhi sapaan akrabnya.

Komponen lain yang berbeda tentu kabel bodi karena penggantian ECM dan penambahan jalur kabel ke lampu indikator di speedometer dan switch idling. Speedometer juga jelas berbeda karena versi terbaru ini sudah dilengkapi dengan lampu indikator (stand-by indicator) pengingat ISS.

Ada lampu indikator di speedometer-nya
ISS Bekerja Didukung Banyak Komponen dan Sensor
Sebagai gambaran ada beberapa komponen dan sensor yang bertugas mengaktifkan fitur ini. Untuk komponen non sensor ada idling stop switch, stand-by indicator dan engine control module (ECM). Sedang untuk sensor injeksi didukung oleh ECT sensor (Engine Coolant Temp), VS sensor (Vehicle Speed), TP sensor (Throttle Position).

Urutannya kerjanya sebagai berikut, pertama aktifkan dulu switch idling stop. Lalu nyalakan mesin dan jalankan motor. Motor dianggap telah berjalan dan digunakan bila memenuhi dua syarat yaitu suhu mesin sudah mencapai 60 derajat dan sudah mencapai kecepatan 10 km/jam.

Setelahnya, VS sensor dan ECT sensor akan memberikan sinyal ke ECM untuk bersiaga, sehingga ketika motor berhenti lebih dari 3 detik, mesin akan langsung mati. Ketika mesin mati dalam ditandai dengan nyala indikator pada spidometer. Dalam proses ini posisi piston juga akan melakukan swing back atau kembali dalam kondisi tidak melakukan kompresi.
Throttle position sensor sangat berperan (kiri). ECM baru dengan program yang berbeda. 

"Tujuannya supaya tidak ada beban yang terlalu berat saat mesin menyala kembali,” kata pria berkacamata ini.

Giliran mesin mau dinyalakan, saatnya TP sensor yang pegang peranan. Ketika selongsong gas diputar, TP sensor memberikan sinyal ke ECM untuk memerintahkan mesin agar menyala kembali. Jadi tidak perlu pencet tombol stater lagi, cukup dengan memutar gas saja.

Salah satu komponen lagi yang wajib ada pada idling stop system adalah ACG starter, perangkat starter yang sekaligus menjadi altenator. Pada ACG starter tidak ada lagi dinamo starter konvensional dan mekanisme gigi penggeraknya, sehingga proses menyalakan mesin jadi lebih halus dan mudah. (motorplus-online.com)

Estimasi Biaya Pasang Idling Stop di Honda Vario Techno 125 Lama!



Honda Vario Techno 125 yang dilengkapi idling stop system (ISS) diklaim konsumsi bahan bakarnya bisa lebih hemat hingga 7 persen. Hasil pengetesan internal Honda dengan metode ECE R40, didapat konsumsi bahan bakar hingga 55,8 km/liter.

Lebih hemat dari Vario Techno 125 tanpa ISS yang hanya 52,1 km/liter. “Dilakukan berjalan selama 27 menit dengan pola buka tutup gas yang beragam. Total akumulasi dalam kondisi mati selama perjalanan 5 menit dan 22 menit berjalan,” terang Sarwono Edhi, Technical Training Development PT Astra Honda Motor (AHM)

Wah jadi lumayan irit, tertarik untuk mengadopsinya pada tunggangan Vario Techno 125 yang belum dilengkapi ISS? “Bisa saja, tapi ada beberapa komponen yang harus diganti,” tegas Edhi sapaan akrabnya

ECM harus ganti harganya Rp 1,35 juta
Pertama yang harus diganti adalah ECM, karena ECM yang sudah memiliki fitur ISS dengan yang tidak ada perbedaan pada programnya. “Untuk komponen ini harganya cukup mahal, sesuai catalog sekitar Rp 1,35 juta,” urai Edhi.

Selanjutnya mengganti kabel bodi karena ECM juga sudah mengalami penggantian. “Otomatis kabel bodi juga ikut diganti, harganya sekitar Rp 500 ribu berdasarkan katalog,” kata Edhi.

Lampu indikator saat ISS bekerja yang ada pada speedometer Vario Techno 125, mengharuskan speedometer yang lama ikut dipensiukan, selanjutnya beli idling stop switch dibarengi dengan mengganti cover speedometer. Estimasinya jika dijumlahkan sekitar Rp 2,5 juta untuk memasang fitur ini di Vario Techno 125 yang belum dilengkapi ISS.

Masih lebih mahal ketimbang selisih harga Vario Techno 125 lama dan Vario Techno 125 baru yang sudah dilengkapi dengan ISS. Selisihnya cuma Rp 450 ribu saja! Dari Rp 15,9 juta naik jadi Rp 16,35 Juta on the road Jakarta.

Kalau gitu beli Vario Techno 125 baru sekalian aja deh hehee..(motorplus-online.com)

First Ride Honda Vario Techno 125 CBS Idling Stop, Serupa PCX

Berkendara Honda PCX 125 dan PCX 150 yang dibekali dengan Idling Stop System (ISS) sudah pernah dilakukan. Tapi kali ini tidak sedang membicarakan kedua motor tadi, kali ini adalah sesi first ride Honda Vario Techno 125 CBS Idling Stop.

Secara spesfikasi dan cara kerjanya, memang tidak ada yang berbeda dari PCX 125. Tapi boleh dong dicoba..!!! Kesempatan pertama ini kami dapatkan setelah menyambangi test track milik PT Astra Honda Motor (AHM) di Cakung, Jakarta Utara. Yuhuuuu..!

Langsung deh duduk dan membawanya berkeliling. Secara desain memang sama persis dengan versi sebelumnya yang tidak menggunakan Idling Stop. Begitu juga dengan impresi berkendaranya, posisi duduk hingga akselerasinya tidak ada yang berubah.

Tapi joknya masih tinggi yang membuat rider dengan tinggi badan kurang dari 165 cm kesulitan menapakan kakinya dengan sempurna ke aspal. Sedang mesinnya, SOHC 2 klep berpendingin cairan ini memiliki tenaga 11,3 PS di 8.500 rpm, hasilnya tetap responsif sekaligus nyaman.

Respon Idling Stop System Serupa PCX
Yuk, langsung coba fitur idling stop-nya. Sama seperti PCX, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengaktifkan idling stop dengan menekan tombol di setang sebelah kanan. Setelah itu, lampu hijau di area speedometer akan menyala menunjukan bawah indling stop sudah aktif.

Tapi bukan berarti ketika langsam atau idle bisa langsung mati mesinnya, ada beberapa syarat yang harus dilakukan sebelum membuktikan idling stop-nya bekerja. Yaitu suhu mesin harus sudah berada di 60 derajat celcius dan sudah berkendara lebih dari 10 km/jam.

Jalan sedikit dulu deh, lalu dicoba berhenti. Tunggu 3 detik, maka secara otomatis mesin mati. Saat mesin mati, lampu hijau di indikator akan berkedip. Untuk menyalakannya kembali tinggal putar selongsong gas perlahan. Greeeeng... mesin nyala lagi tapi sangat halus, maklum motor ini sudah pakai  ACG starter.


Perangkat starter yang sekaligus menjadi altenator. Pada ACG starter tidak ada lagi dinamo starter konvensional dan mekanisme gigi penggeraknya, sehingga proses menyalakan mesin jadi lebih halus dan tidak membutuhkan arus listrik besar. Maka ACG adalah teknologi wajib untuk aplikasi idling stop system ini.

Lanjut sambil iseng. Ketika berhenti dan mesin mati dalam mode idling stop, saklar indling stop di non aktifkan lalu diaktifkan kembali, apa yang terjadi? Ketika gas dibuka mesin enggan hidup, mesin harus dinyalakan manual dengan tombol electric starter. Ternyata, Engine Control Unit (ECM) langsung menghapus perintah idling stop dan mengharuskan untuk mengulangi dari proses awal berjalan minimal 10 km/jam.

Tambah ISS lebih irit 7 persen
Dengan fitur ini konsumsi bahan bakarnya bisa lebih hemat hingga 7 persen. Pengetesan dengan metode ECE R40, Honda mendapati konsumsi BBM Honda Vario Techno CBS 125 ISS mencapai 55,8 km/liter. Lebih irit dari Vario Techno 125 tanpa ISS dengan 52,1 km/liter.

Lalu berapa konsumsi bahan bakar sesungguhnya saat digeber di jalanan? Bukan cuma Anda, kami juga penasaran! Tunggu update-nya ya! (motorplus-online.com)

Test Ride Vario Techno 125 Idling Stop, Membuktikan Efisiensi BBM-nya!

Sebelumnya tim OTOMOTIFNET.com sudah mencoba Honda Vario 125 CBS Idling Stop di test track milik PT Astra Honda Motor (AHM). Karena keterbatasan area, masih banyak rasa penasaran lain yang mengganjal.

Salah satunya adalah membandingkan efisiensi yang bisa diberikan oleh fitur idling stop system bila dibandingkan dengan kondisi ketika tidak mengaktifkan fitur smart ini. Baru deh kesampaian menjajal setelah unit test dari PT AHM dikirim ke kantor redaksi.

Karena tujuan awalnya membandingkan, maka sesi tes konsumsi bahan bakar kali ini dilakukan dalam dua tahap berbeda. Tahap pertama tanpa idling stop, dan tahap kedua dengan idling stop. Asiknya, cukup pakai satu motor saja, kan fitur ini bisa di non aktifkan hanya dengan pencet tombol di panel setang.

Tinggal menentukan rute dan waktu pengetesan. Keduanya harus sama agar bisa mendapatkan jarak tempuh dan kondisi lingkungan yang serupa. Ingat hanya serupa ya, tidak akan mungkin benar-benar sama. Ketidak presisian hasil pengetesan karena kondisi lingkungan yang berbeda pasti akan terjadi. Tapi, setidaknya sudah diusahakan agar tidak melenceng terlalu jauh.
Rutenya dipilih dari kantor redaksi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat ke Pondok Gede, Bekasi pulang-pergi. Jalur yang dilewat Permata Hijau, Senayan, Gatot Subroto, Halim, Pinang Ranti, lalu Pondok Gede. Tesnya sendiri di lakukan pada jam lengang di malam hari lalu kembali lagi lewat rute yang sama di pagi hari, dimana kemacetan sedang lucu-lucunya. 

Sekali jalan, totalnya ada sekitar 6 lampu traffic light dengan ragam waktu pemberhentian. Mulai dari 120 detik sampai kurang dari 60 detik. Dan untungnya, hampir selalu kena berhenti di lampu merah hehhee..

Ketika berhenti di lampu merah, teknologi idling stop sangat berguna. Hanya dalam waktu 3 detik kondisi idle, mesin langsung mati. Oh iya, meski mesin mati, headlamp tetap menyala. Hanya cahayanya jadi sedikit redup. Ketika gas dibuka, mesin pun kembali menyala.

Cukup menguras tenaga saat mendekati perempatan Pancoran dan Kuningan. Kondisi stop n go tidak dapat dihindari, tapi justru di sini pula bisa merasakan fungsi dari fitur idling stop.

Taruhlah, karena kemacetan menjelang traffic ligth mengular, bisa kena lampu merah hingga 3 kali. Kalau satu kali lampu merah 60 detik, maka harus berhenti 180 detik. Wah, kalau mesin dibiarkan menyala lumayan juga tuh borosnya.  

Hasilnya cukup signifikan, dengan rider berspesifikasi 168 cm/65 kg Vario Techno 125 Idling Stop capai 53.48 liter/km pakai idling stop. Sedang saat menonaktifkan idling stop hanya 42.02 liter/km. Oiya dalam pengetesan ini cara buka tutup gas tetap agresif tapi kecepatan maksimal dibatasi hanya 80 km/jam.
Enggak Ngorok Lagi!
Baik performa dan akselerasi tidak ada yang kurang, sama saja seperti versi sebelumnya yang belum pakai idling stop. Rem juga sudah menganut Combi Brake System (CBS), peranti penghenti laju cukup mumpuni memberhentikan motor.

Bentuk jok tetap lebar, pijakan kaki rider ke aspal jadi kurang sempurna. Suspensinya juga masih sama, redamannya nyaman dan cukup stabil di kecepatan sedang sampai tinggi. Satu yang berbeda adalah, saat gas dibuka mendadak suara ngoroknya udah ilang bro..!!!  

First Ride New Honda Mega Pro, Sensasi Real Street Fighter

OTOMOTIFNET - Setelah dilaunching hari Senin lalu (9/8), PT. Astra Honda Motor (AHM) langsung mengajak semua wartawan yang datang untuk mencicipi performa New Honda MegaPro di Sentul International Karting Circuit (SIKC). Motor sport baru yang oleh Honda diberi julukan “Real Street Fighter” ini boleh langsung di geber! Yuk, ikuti terus sesi first ride ini.

Desain
Pertama yang dilakukan pastinya langsung melihat desain, dan ternyata tak ada berbeda dengan Honda Unicorn yang sudah lebih dulu meluncur di India. Desain bodynya jauh lebih sporty ketimbang Mega Pro lama.

Headlamp dibalut cover besar layaknya motor sport India dan buntutnya sudah enggak rata lagi, kini lebih nungging dengan suspense belakang monoshock. Secara keseluruhan menang terlihat slim dan sporty.

Fitur Dan Teknologi
Sedang fitur dan teknologi yang diusung sepertinya enggak ada yang baru. Paling membedakan adalah mesin barunya, meski lebih kecil 10cc, dari 160cc menjadi 150cc tapi powernya lebih besar 0,4 dk. Megapro lama 13,1 dk menjadi 13,5dk.

Mengusung teknologi Xtra Responsive Performance (RXP) dengan menggunakan roller rocker arm dan teknologi low friction membuat suara mesin lebih halus. Pistonnya pun lebih ringan, yakni 89 gram dari sebelumnya 144 gram.

New Mega Pro juga sudah dilengkapi dengan Throttle Position Sensor layaknya Yamaha Jupiter MX, TPS ini dipadukan dengan CDI dengan 12 Ignition Mapping, yang dapat meningkatkan ketepatan respon mesin terhadap putaran throttle dan membuat pembakaran lebih sempurna,

Sedang fitur andalannya paling hanya seputar desain speedometer baru yang menggabungkan analog untuk takometernya dan digital pada tampilan speedometer. Dan penggunaan disk brake di roda belakang pada New Mega Pro tipe Casting Wheel.

Performa
Seperti sudah disinggung, mesin baru New Mega Pro ini sedikit lebih besar tenaganya dan memang terbukti saat dicoba dilintasan Sirkuit Karting Sentul. Tenaga bawahnya memang lebih responsif, digas sedikit enteng menarik tubuh. Tapi responsifnya enggak cuma dibawah, merata sampai ke atas khas mesin square (diameter x langkah: 57,3 x 57,8 mm)

Perpindahan giginya pun halus. Dan tak terasa, di trek lurus depan tribun yang tak begitu panjang, New Mega Pro bisa mencapai 80 km/jam sebelum akhirnya harus tutup gas dan melakukan pengereman karena tikungan pertama sudah menyambut. Karakter seperti ini akan sangat menyenangkan dipakai di perkotaan yang lebih banyak stop and go!
Handling
Mega Pro punya kelebihan soal kenyaman khususnya urusan posisi duduk pengendaranya. Tapi di New Mega Pro rasanya sedikit berbeda dengan versi lamanya. Yang sekarang lebih mirip duduk di Honda Tiger. Stang tetap tinggi tinggi dan posisi badan sedikit condong ke depan, membuat pengendara lebih siaga.

Yuk, langsung menikung di sirkuit yang memiliki 14 tikungan ini! Semua tikungan di sirkuit yang biasa di sebut dengan Sentul kecil ini hampir tidak ada yang patah, meski pelan harus ditaklukan dengan gantung gas. Hebatnya, handlingnya terbilang cukup baik.

Motor tidak goyang meski dipakai rebah, suspensi belakangnya yang sudah monoshock bekerja optimal. Suspensi baru ini bisa disetting keras dan lembutnya loh. Begitu juga ketika hendak berpindah posisi dari menikung kiri ke kanan, suspensinya tetap tenang dan tetap mudah mengendalikan arah.

Bahkan saat direbahkan di salah satu sudut tikungan yang berpasir, New Mega Pro tetap bisa meluncur dengan mulus. Sayangnya ban yang dipilih masih sama seperti versi sebelumnya. Kembanganya kurang sporty dan ukurannya yang kecil membuat penampilannya terlihat ceking. Rasanya, yang satu ini bakal paling banyak kena sentuhan modifikasi.

Oiya, hampir lupa ngerem. Urusan bikin berhenti motor ini, disk brake dengan kaliper dua piston di depan sudah cukup ampuh. Apalagi roda belakang juga sudah dikawal disk brake dengan kaliper satu piston, lebih dari cukup untuk memberikan pengereman optimal. Tapi ingat jangan asal injak rem belakang, terlalu pakem bisa bikin roda belakang terkunci, smooth saja!

Harga : Rp 19,5 Juta (Casting Wheel), 18,3 (Spoke Wheel)

sumber : http://motor.otomotifnet.com/read/2010/08/11/12175/38/13/First_Ride_New_Honda_Mega_Pro__Sensasi_Real_Street_Fighter_